Ramah dan selalu tersenyum, begitulah yang kerap disampaikan orang sekitar ketika ditanyakan tentang sosok anak sulung dari Bapak Pilia Gurik (Kanggime) dan Ibu Weya (Warima Goyage),
Arius Gurik, anak pertama dari dua bersaudara yang lahir di kota kecil Kanggime pada tahun 1947 ini sedari kecil sudah mandiri, pada usia belia yakni berumur tujuh tahun beliau sudah bekerja di rumah salah seorang Misionaris asal Kanada yang bernama Nya Djurry.
Melihat keuletan dan semangat keingintahuan yang tinggi, tepat berumur sepuluh tahun Nya Djurry memasukkan beliau di sekolah buta huruf yang dibuka oleh para Misionaris saat itu di kanggime. Menurutnya Arius adalah anak yang pandai dan penuh hikmat, sehingga pada Tahun 1966 beliau diajak Misionaris ke Kamur da Kawem Selatan Papua dalam rangka penginjilan rohani Bersama Misionaris, dan pada Tahun 1969 ke Jayapura tepatnya di Pos Tujuh untuk mengikuti perjalanan para Misionaris.
Berprestasi di Sekolah membuatnya ingin terus belajar sembari membantu Misionaris Nya Djurry. Melihat sosok yang begitu semangat belajar membuat Misionaris Nya Djurry kagum, sehingga Nya Djurry menyuruh Arius untuk melanjutkan pendidikannya.







Comment